Widget HTML Atas

Wisata Kota Payakumbuh

INDOWISATA88 - Blogger semua.. Kali ini saya akan sedikit mengupas sebuah tempat wisata di Provinsi Sumatera barat(tw kan kalau Sumatera Barat termasuk Provinsi yang banyak akan daerah wisatanya).
Berbicara Sumatera Barat pasti banyak sekali tempat wisata yang dapat kita datangi mulai dari wisata Laut,  Danau, Bukit, Gunung, maupun wisata sejarah.
Kali ini kita akan sedikit membahas sebuah Kota yang termasuk cukup populer bagi individu yang memang menyukai wisata, yaitu Kota Payakumbuh.
Payakumbuh merupakan sebuah Kota di Provinsi Sumatera Barat. Jika kita melakukan perjalanan darat menggunakan mobil atau motor maka Kota Payakumbuh akan dapat kita capai dengan waktu lebih kurang 3 jam.
Payakumbuh juga merupakan daerah yang wisata,  khususnya untuk daerah Sumatera barat.

Beberapa kawasan wisata di kota ini antara lain Ngalau Indah, Ngalau Sompik, Puncak Simarajo, Panorama Ampangan dan sebagainya. Selain itu pertunjukan Pacu Itik  merupakan tradisi yang setiap tahunnya diselenggarakan pada nagari-nagari yang ada dalam kota ini juga menjadi salah satu atraksi pariwisata di kota ini.

Beberapa tempat wisata yang bisa kamu kunjungi untuk mengisi liburan :
1. Jembatan Ramadan Ibu
Jembatan Ratapan Ibu adalah sebuah jembatan yang terletak di kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Jembatan ini dibangun tahun 1840, 8 tahun setelah Belanda masuk ke Luak Limopuluah. Belanda masuk 1832. Jembatan ini memiliki panjang 40 meter dengan arsitektur kuno berupa susunan batu merah setengah lingkaran yang direkat dengan kapur dan semen tanpa menggunakan tulang besi.
Jembatan tersebut menjadi terkenal dan bersejarah karena menjadi tempat eksekusi para pejuang kemerdekaan oleh tentara Belanda pada zaman penjajahan. Dari catatan sejarah, para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tertangkap Belanda digiring menuju jembatan tersebut, lalu disuruh berbaris di bibir jembatan. Setelah itu, mereka dieksekusi dengan tembakan senjata api, sehingga tubuh mereka langsung jatuh ke Batang Agam dan dihanyutkan arus deras. Masyarakat, terutama kaum wanita, setiap menyaksikan eksekusi itu hanya bisa menangis melihat para pejuang bangsa ditembaki, lalu mati dan jasadnya jatuh ke sungai serta dihanyutkan air. Untuk mengenang peristiwa itu, maka jembatan tersebut diberi nama "Ratapan Ibu".